• Home
  • Ekonomi
  • 12 Fakta Menarik Dibalik Hari Keuangan Nasional yang Ke-72

12 Fakta Menarik Dibalik Hari Keuangan Nasional yang Ke-72

Tahukah Anda bahwa tanggal 30 Oktober merupakan hari spesial bagi Republik Indonesia? Bagi yang belum tahu atau luput dari perhatian bahwa tanggal 30 Oktober merupakan tanggal dimana pemerintah Indonesia secara resmi memutuskan untuk menggunakan Oeang Republik Indonesia (ORI) atau yang sekarang dikenal sebagai Uang Rupiah sebagai mata uang resmi yang digunakan di Indonesia dalam kehidupan sehari-sehari sehingga uang Jepang dan Uang Javasche Bank tidak berlaku lagi. Tepat hari ini, Uang Rupiah telah digunakan selama 72 tahun.

Ada banyak makna yang dapat kita peroleh dari kehadiran sebuah mata uang. Mata uang sebuah negara tidak hanya bermanfaat sebagai alat transaksi yang sah. Namun, mata uang juga berperan sebagai simbol kedaulatan suatu negara dan identitas suatu bangsa.

Dalam keseharian banyak orang, uang telah menjadi kebutuhan yang sulit dilepaskan. Hal ini karena banyak aktivitas yang bersentuhan langsung dengan uang, mulai dari belanja kebutuhan pokok, pembayaran asuransi, pembayaran pinjaman, memiliki tabungan, investasi hingga pemberian sumbangan. Penggunaan uang dalam berbagai macam kebutuhan mencerminkan tingkat kesejahteraan masyarakat suatu negara.

Di zaman globalisasi ekonomi ini, setiap negara tentunya memiliki mata uang resmi yang digunakan untuk bertransaksi sehari-hari. Ada beberapa negara yang sepakat menggunakan satu mata uang resmi saja. Contohnya, mata uang Euro sepakat digunakan negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa. Selain itu, ada Dolar yang digunakan Amerika Serikat sebagai mata uang resmi negaranya. Namun, Singapura dan Australia juga menggunakan Dolar sebagai mata uangnya tetapi nilai Dolar Singapura dan Dolar Australia berbeda dengan Dolar Amerika Serikat.

Akan tetapi, ada juga negara-negara yang memiliki mata uangnya sendiri dan digunakan di dalam negeri mereka. Misalnya, Jepang menggunakan mata uang Yen sebagai alat tukar resmi berlaku di masyarakat Jepang. Sama seperti Jepang, Indonesia juga memiliki mata uang sendiri, yakni Rupiah yang telah digunakan oleh masyarakat Indonesia sejak 72 tahun lalu. Namun, tahukah Anda banyak sejarah menarik dibalik mata uang Rupiah? Penasaran mau tahu apa saja fakta-fakta menarik tersebut? Berikut ini ulasannya.

1. Perancangan Mata Uang Indonesia Setelah Indonesia Merdeka

Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaanya pada 17 Agustus 1945, Indonesia belum menetapkan mata uang sendiri karena masih berada di kondisi ekonomi yang buruk. Saat itu, ada tiga mata uang yang beredar di Indonesia, yaitu mata uang penjajah jepang, mata uang Gulden Hindia Belanda dan mata uang De Javasche Bank sehingga menyebabkan inflasi tinggi di Indonesia.

Semenjak itu, Pemerintah Indonesia mulai merencanakan untuk menerbitkan mata uang sendiri setelah kemerdekaan Indonesia. Hal ini bukan hanya untuk sebagai alat pembayaran dan lambang utama negara, namun juga sebagai alat untuk memperkenalkan diri kepada masyarakat luas.

2. Mata Uang Indonesia Terbit Saat Ekonomi Indonesia Belum Stabil

Pada saat Pemerintah Indonesia merencanakan untuk membuat mata uang resmi Indonesia, Netherlands Indies Civil Administration (NICA) hadir dan ingin menerbitkan mata uang NICA. Datangnya NICA membuat perekonomian tidak stabil dan inflasi tinggi. Sebab itu, Pemerintah Indonesia mempercepat produksi Oeang Republik Indonesia (ORI) untuk mengurangi tekanan politik dan ketidakstabilan ekonomi.

3. Pergantian Menteri Keuangan Sebanyak Enam Kali Sebelum Terbitnya Rupiah

Dr. Samsi merupakan Menteri Keuangan pertama setelah Pemerintah Indonesia mendeklarasikan merdeka. Di masa jabatannya, Dr. Samsi fokus untuk memperoleh dan mencairkan dana untuk membiayai perjuangan Republik Indonesia. Akan tetapi Dr. Samsi mengundurkan diri pada 26 September 1945.

Kemudian jabatan Menteri Keuangan dijabat oleh A.A Maramis. Saat A.A Maramis menjabat, beliau mulai membentuk Panitia Penyelenggaraan Percetakan Uang Kertas Republik Indonesia. Tidak lama setelah itu, Sunarjo Kolopaking menggantikan A.A Maramis. Setelah itu, diganti lagi oleh Ir. Surachman Tjikroadisurjo yang dipilih kabinet Sjahrir sebagai Menteri Keuangan. Namun, pada 2 Oktober 1946, jabatan Ir. Surachman kemudian dipegang oleh Sjafruddin Prawiranegara. Pada masanya Sjafruddin Prawiranegara, Rupiah akhirnya diterbitkan pertama kali.

4. Indonesia Menerbitkan dan Mengedarkan Oeang Republik Indonesia (ORI)

 Ketika Mr. Sjafruddin Prawiranegara menjabat sebagai Menteri Keuangan, beliau mempercepat terbitnya mata uang Indonesia. Mr. Sjafruddin Prawiranegara berpandangan dengan memiliki mata uang sendiri, Indonesia dapat menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia adalah negara yang berdaulat. Pada 30 Oktober 1946, Indonesia akhirnya memiliki mata uang resmi pertama kali bernama Oeang Repoeblik Indonesia (ORI). Semenjak itu, mata uang lain yang beredar tidak lagi berlaku. Saat Oeang Republik Indonesia (ORI) pertama kali beredar, ada delapan (8) seri uang kertas bernominal satu sen, lima sen, sepuluh sen, setengah rupiah, satu rupiah, lima rupiah, sepuluh rupiah, dan seratus rupiah. ORI memiliki sisi depan dan belakang yang bergambar ciri khas Indonesia, seperti wajah Presiden Soekarno, gambar pemandangan Indonesia, dan teks Undang-Undang Dasar 1945.

5. Mohammad Hatta Berpidato Menjelang Terbitnya ORI

Sehari sebelum ORI resmi diterbitkan dan diedarkan tepatnya pada ttanggal 29 Oktober 1946 pukul 20.00, Mohammad Hatta sebagai Wakil Presiden pertama Indonesia kala itu mengumumkan ke publik melalui siaran radio RRI bahwa ORI akan mulai berlaku pukul 00.00 ke esokan harinya pada tanggal 30 Oktober 1946. Hatta menyatakan dengan hadirnya ORI, mata uang lain yang beredar di Indonesia sudah tidak berlaku lagi, rakyat Indonesia tidak akan mengalami penderitaan dan kesulitan dan ORI juga merupakan tanda kemerdekaan Republik Indonesia. Semenjak hari itu, Hari Keuangan Nasional mulai dicetuskan.

6. ORI Pertama Kali Ditandatangani oleh A.A Maramis

Pertama kali ORI diterbitkan, A.A Maramis membubuhkan tanda tangannya di lembar ORI yang beredar pada 30 Oktober 1946. Jadi, uang rupiah yang kita lihat sekarang hampir sama dengan ORI karena keduanya dibubuhi tanda tangan. Tanda tangan juga menjadi bukti ORI yang beredar adalah mata uang Indonesia resmi.

7. Belanda Tidak Mengakui ORI

Pada saat itu, Belanda yang belum mau mengakui Indonesia sebagai negara merdeka berdaulat tidak ingin mengakui ORI sebagai alat pembayaran yang sah digunakan di Indonesia. Belanda yang sempat datang kembali ke Indonesia tetap menggunakan mata uangnya untuk memperburuk kondisi perekonomian Indonesia. Namun, rakyat Indonesia tidak terpengaruh dan tetap menggunakan ORI sebagai alat pembayaran.

8. ORI Berubah Menjadi Uang RIS Setelah Indonesia Diakui Kedaulatannya

Meskipun Indonesia telah merdeka selama 4 tahun, yaitu sejak tahun 1945. Namun, Indonesia baru memperoleh pengakuan kedaulatannya dari Belanda pada 27 Desember 1949 melalui salah satu hasil perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB). Setelah itu, Indonesia pun berubah nama menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS). Untuk menyeragamkan uang di wilayah Republik Indonesia Serikat, penggunaan ORI terpaksa berhenti pada seri ORI baru dan digantukan menjadi uang RIS yang diterbitkan dan diedarkan oleh De Javasche Bank.

9. Bank Indonesia Dibentuk Sebagai Bank Sentral di Indonesia

Pada Desember 1951, De Javasche Bank yang awalnya menerbitkan uang RIS kemudian dinasionalisasi menjadi Bank Sentral, yakni Bank Indonesia. Awalnya penerbitan mata uang ditangani terpisah, Bank Indonesia hanya memiliki tanggung jawab untuk menerbitkan uang kertas rupiah, sedangkan uang koin menjadi tanggung jawab pemerintah. Mulai dari masa orde baru, barulah Bank Indonesia memperoleh wewenang penuh untuk menerbitkan uang kertas dan uang koin dan mengatur regulasi peredarannya.

10. Rupiah Diterbitkan Menggantikan Uang RIS

Sampai saat ini, belum jelas kapan tepatnya Indonesia mengganti nama mata uangnya menjadi Rupiah. Namun, informasi yang beredar bahwa setelah Bank Indonesia dibentuk pertama kali, uang rupiah juga mulai dicetak oleh Bank Indonesia sebagai alat pembayaran. Adapun nama “rupiah” berasal dari bahasa Mongolia yang berarti perak. Beberapa sumber juga mengatakan bahwa rupiah berasal dari bahasa Sansekerta “rupya” yang memiliki arti sama. Lantas, kenapa tulisannya bisa menjadi rupiah? Huruf “H” ditambahkan pada penulisan rupiah karena pelafalan orang Indonesia, terutama orang Jawa sering menambahkan huruf “H” di belakang kata.

11. Rupiah Anjlok di Tahun 1998 Akibat Krisis Moneter

 Pada tahun 1998, krisis moneter melanda negara-negara di Asia. Krisis moneter ini awalnya dimulai di Thailand, kemudian merambah ke Indonesia dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat. Awalnya nilai tukar rupiah berada di angka Rp2.500 per Dolar Amerika Serikat di tahun 1997, kemudian anjlok menjadi Rp17.000 per Dolar Amerika Serikat pada tahun 1998. Pada tahun 1998, perekonomian Indonesia seketika lumpuh, bank-bank besar mengalami kredit macet dan perusahaan-perusahaan bangkrut. Namun, kondisi ekonomi mulai pulih dan membaik setelah Soeharto mengundurkan diri sebagai Presiden.

12. Bank Indonesia Merilis Rupiah Dengan Tampilan Baru di Tahun 2016

Di tahun 2016 lalu, Bank Indonesia merilis 11 uang rupiah dengan tampilan terbaru yang terdiri atas tujuh pecahan uang kertas dan empat pecahan uang koin. Tampilan warna uang rupiah baru ini lebih cerah daripada uang rupiah yang sebelumnya beredar. Pecahan kertas rupiah yang terbaru juga diklaim sebagai salah satu mata dengan tingkat keamanan tertinggi di dunia karena telah menerapkan 3 level pengamanan untuk mencegah pemalsuan.

Hargai Rupiah Layaknya Bapak-Bapak Bangsa Memperjuangkannya

Dari paparan sejarah Keuangan Nasional di atas, dapat kita lihat banyaknya tantangan dan rintangan yang harus dihadapi Pemerintah Indonesia untuk memberlakukan mata uang Rupiah sebagai alat pembayaran yang sah. Setelah 20 tahun sejak krisis moneter melanda Indonesia, perekonomian Indonesia semakin menunjukkan perbaikan yang signifikan. Hal ini juga dapat dilihat dari suksesnya Pertemuan Tahunan IMF dan World Bank Group yang baru saja diselenggarakan di Nusa Dua Bali Oktober 2018 lalu. Semoga dengan mengetahui fakta-fakta menarik seputar lahirnya mata uang Indonesia, kita dapat lebih menghargai mata uang rupiah, misalnya dengan menabung uang rupiah dan berinvestasi di pasar modal Indonesia untuk mengendalikan tingkat inflasi. Jadi, mulailah hargai rupiah kita karena kalo bukan kita siapa lagi.

Financer privacy settings

With using financer.com you acknowledge our terms and conditions as well as our data privacy policy. We use Cookies to analyze and track the usage of our website in order to improve our services. Certain Cookies require your active consent in order for us to collect this data. You can inform yourself about the third-party-services we use as well as withdraw your consent anytime in our Cookie-Settings.

Facebook Marketing

SEO Solutions Ltd. (we) as the provider of the website financer.com is using the Facebook-Pixel to promote our content and services to our visitors on Facebook as well as track the results from these marketing activities. This data is anonymised for us and serves for statistical purposes only. Facebook can connect the data collected from the Facebook Pixel with your Facebook profile (Name, E-mail, etc.) and use this for its own advertising purposes. you can view and control the data Facebook is collecting about your Facebook privacy settings.