Tips Investasi Bagi Mahasiswa

Salah satu kesalahan paling fatal dalam hal merencanakan keuangan adalah terlambat berinvestasi. Jangan salah sangka, untuk mulai berinvestasi Anda tidak perlu menunggu saat sudah bekerja, kok. Prinsipnya adalah lebih cepat lebih baik. Jika Anda mulai investasi lebih awal tentunya pengalaman Anda pun akan lebih banyak.

Berinvestasi sebenarnya bukan hal yang sulit. Meski begitu, semua hal yang stabil dan baik tentu membutuhkan keahlian bukan? Hal itu berlaku juga pada investasi. Semakin paham dan berlatih, Anda pun semakin jeli ketika berinvestasi.

Nah, kapan sih sebaiknya Anda mulai investasi? Waktu yang cukup ideal untuk mulai belajar adalah ketika Anda masih mahasiswa. Jangan khawatir karena kantong tidak seberapa, investasi bisa dimulai dari nominal kecil. Nah, berikut ini ada beberapa tips berinvestasi untuk Anda yang masih mahasiswa. Mudah dan gampang, kok!

Lakukan Observasi dan Riset Pada Berbagai Jenis Investasi

Sebelum memulai investasi, hal paling penting yang harus Anda lakukan adalah observasi dan riset. Kedua hal ini sangat penting mengingat Anda adalah pemain baru di dunia investasi. Bagaimana cara melakukan observasi dan riset investasi secara efisien?

Anda bisa membaca buku serta berita yang berhubungan seputar investasi. Riset yang perlu Anda lakukan cukup sebatas membuat Anda paham mengenai investasi. Selanjutnya Anda bisa observasi.

Usahakan bertemu dan mengobrol dengan orang yang sudah pernah berinvestasi sebelumnya. Lebih baik lagi apabila orang tersebut sudah berpengalaman. Hal itu tentu akan menambah insight tentang apa yang nantinya mesti Anda lakukan saat berinvestasi. Setelah Anda paham mengenai dasar-dasar investasi, Anda bisa melangkah ke tahap selanjutnya.

Pastikan Dulu Kemampuan Finansial Anda

Tahap setelah observasi dan riset adalah membuat skema keuangan. Tahap ini cukup penting karena Anda akan tahu kemampuan finansial Anda saat ini sejauh apa.

Sebagai seorang mahasiswa, tentu pemasukan utama keuangan diperoleh dari uang saku yang diberi oleh orang tua. Selain uang saku, apakah Anda punya pendapatan lain? Pendapatan ini bisa berasal dari kerja sampingan, hadiah lomba, beasiswa, dan lain sebagainya.

Tinjau kembali dan buatlah skema alur keluar masuk keuangan selama setahun. Jika Anda sudah terbiasa membuat laporan anggaran keuangan atau mengatur keuangan setiap bulannya, hal itu akan sangat memudahkan. Anda bisa mengecek, berapa banyak uang yang dapat dialokasikan untuk investasi.

Jangan pesimis dulu jika ternyata keuangan pribadi tidak sebaik yang selama ini Anda kira. Meski Anda hanya bisa menyisihkan sedikit setiap bulannya, Anda tetap bisa mulai investasi, lho! Sedikit-sedikit dulu, nanti lama-lama akan jadi bukit juga.

Pilih Investasi yang Cocok dan Mudah

Jenis-jenis investasi yang ditawarkan sangat banyak dan beragam. Namun, tidak semuanya cocok untuk mahasiswa. Agar sukses, Anda hanya perlu memilih investasi yang tepat. Bagi mahasiswa, investasi yang bisa dicoba adalah deposito, obligasi negara, emas, P2P, dan juga reksadana.

Deposito merupakan investasi yang paling santai dan rendah risiko. Meski begitu, suku bunga deposito cukup tinggi sekitar 5% sampai 8%. Investasi ini berupa produk simpanan bank dengan waktu setor dan tarik uang yang ditentukan. Periode penyimpanan deposito berkisar antara 3 bulan sampai 1 tahun.

Selain deposito, Anda juga bisa berinvestasi dengan membeli obligasi yang ditawarkan oleh negara. Obligasi merupakan surat perjanjian utang. Jadi, secara sederhana, dengan membeli obligasi negara maka Anda memberi bantuan utang untuk berbagai kebutuhan negara. Awal tahun 2019 ini, negara mengeluarkan SBR005 yang dapat dibeli secara online. Dengan membeli SBR005, Anda tidak hanya sekadar berinvestasi untuk diri sendiri namun juga ikut membantu kestabilan ekonomi Indonesia.

Nah, untuk Anda yang tidak ingin repot, investasi emas atau reksadana bisa dicoba. Dengan berinvestasi emas, Anda akan lebih terbantu jika sewaktu-waktu membutuhkan uang secara mendadak. Dibandingkan ketiga jenis investasi lainnya, hanya emas yang bisa Anda jual kapan saja dengan harga yang cenderung stabil. Namun, emas hanya memberi keuntungan kecil sekitar 2% sampai 4% saja setiap tahunnya.

Anda pun bisa mencoba investasi reksadana. Investasi ini sangat cocok untuk mahasiswa karena minim modal. Uang Anda akan digabungkan dengan milik orang lain dan dikelola bersama. Reksadana sangat membantu bagi para pemula karena akan ada manajer investasi yang membantu mengelola. Dengan begitu, investasi Anda lebih terjamin karena dibantu oleh para ahli.

Jangan Serakah dan Terburu-buru Ingin Untung Besar

Mahasiswa biasanya masih berapi-api dan penuh ambisi. Bersikap optimis memang perlu, namun jangan sampai serakah. Anda tidak perlu terburu-buru menginginkan untung yang besar. Semua hal butuh waktu untuk berkembang.

Dalam dunia investasi, hasil yang didapat terbagi menjadi dua jenis yaitu capital gain dan cash flow. Capital gain adalah hasil dari selisih pembelian dan penjualan investasi yang nantinya digunakan kembali untuk menambah modal investasimu. Dengan begitu, keuntungan Anda akan semakin besar seiring berjalannya waktu.

Lain halnya dengan cash flow. Hasil cash flow akan Anda terima berkala selama periode waktu tertentu. Cash flow dapat dikatakan sebagai pasif income setiap bulannya. Untuk Anda yang masih mahasiswa dan baru belajar saham, sebaiknya memilih capital gain ketika berinvestasi. Mengapa demikian?

Hal itu dikarenakan cash flow yang stabil akan bisa diperoleh ketika Anda sudah melewati capital gain. Alangkah baiknya ketika Anda terus menambah modal investasi terus-menerus. Jika dirasa sudah besar, cash flow yang akan Anda dapatkan setiap bulan pun akan besar. Jadi, Anda harus bersabar dulu di awal. Tidak perlu untung besar, yang penting modal investasi bertambah terus, ya.

Pahami Terlebih Dahulu Setiap Investasi Memiliki Risiko

Jangan dengarkan jika ada orang yang bilang: “jangan investasi itu atau ini karena risikonya besar”. Jika Anda takut di awal, percaya diri Anda dalam berinvestasi akan menurun. Sebagai mahasiswa yang baru akan mulai berinvestasi, Anda harus memahami bahwa apapun investasinya pasti memiliki risiko.

Anda makan pun ada risiko tersedak, apalagi menggandakan uang dengan cara investasi. Yang perlu Anda lakukan hanyalah memahami sebesar apa risiko tersebut dan bagaimana cara meminimalisirnya. Investasi berisiko rendah yaitu deposito, obligasi negara, peer to peer, emas, serta reksadana.

Jika risikonya rendah, tentu keuntungannya juga tidak terlalu tinggi. Berbeda dengan investasi berisiko tinggi seperti reksadana, cryptocurrency, P2P, dan saham. Dikarenakan dapat menghasilkan keuntungan yang lebih tinggi, berbagai investasi tersebut juga lebih rawan. Sebaiknya, Anda mulai belajar dari yang risiko rendah dan menengah dulu. Setelah 2-3 tahun, bolehlah mulai menjajal investasi berisiko tinggi.

Nah, itu dia tips-tips untuk berinvestasi bagi para mahasiswa. Bagaimana? Mudah bukan? Berinvestasi sejak mahasiswa tentu akan memberikan Anda banyak keuntungan. Salah satunya, yaitu Anda bisa merencanakan keuangan masa depan dengan lebih matang sejak awal. Jangan pernah takut gagal, yang penting yakin, terus belajar, dan mulai segera. Selamat mencoba dan semangat berinvestasi ria, ya.

Financer privacy settings

With using financer.com you acknowledge our terms and conditions as well as our data privacy policy. We use Cookies to analyze and track the usage of our website in order to improve our services. Certain Cookies require your active consent in order for us to collect this data. You can inform yourself about the third-party-services we use as well as withdraw your consent anytime in our Cookie-Settings.

Facebook Marketing

SEO Solutions Ltd. (we) as the provider of the website financer.com is using the Facebook-Pixel to promote our content and services to our visitors on Facebook as well as track the results from these marketing activities. This data is anonymised for us and serves for statistical purposes only. Facebook can connect the data collected from the Facebook Pixel with your Facebook profile (Name, E-mail, etc.) and use this for its own advertising purposes. you can view and control the data Facebook is collecting about your Facebook privacy settings.